BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Tampilkan postingan dengan label Nasionalsm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalsm. Tampilkan semua postingan

PIALA

Sebenernya udah lama banget aku #supayalebihakrab ingin nulis tulisan ini , ini sebuah kekecewaan diri yang dampaknya buat semua orang yang kenal dan suka dateng kerumah . Alhamdulillah waktu sd , aku berprestasi cukup baik di bidang pelajaran exact . kalau non-exact aku lumayan lemah , tapi sayangnya aku ngga pernah punya suatu hal yang menjurus sama satu hal aja . Jadi dulu tuh pinter dalam segala pelajaran tapi ngga begitu menonjol , jadi aku ngga punya ciri khas, yang guru-guru tau hanya ‘oh iya ini fitri dia murid yang pintar dikelas’ bukannya sombong tapi cuman itu yang bisa aku banggain dari waktu-waktu yang udah aku lewati . sampe akhirnya keberuntungan selalu ngebawa aku bisa masuk kesekolah yang bergelar rintisan internasional , smp ya masuk smp ini ngebuat aku bangga setengahmamfuuuuus lah walaupun aku ngga bisa ngebangkitin nama aku disana , tapi seengganya aku bisa bersekolah disana . sma pun datang keberuntungan kembali yang menyelamatkanku . hm ini baru aku sadari tiap aku berkunjung kerumah orang , mereka punya piala ditiap rumah mereka , biasanya piala-piala itu mereka dapet dari kaka mereka yang pertama atau punya mereka sendiri yang kebetulan anak pertama . aku anak pertama waktu sd aku cukup pintar tapi aku ngga punya piala sama sekali . akhirnya aku cerita sama ayah dan umi , tapi alhasil aku malah s=disalahin abis-abisan . mau protes ya gimana semua udah ngga bisa keulang , kalau boleh ngebela diri sih gini ya , dari kecil aku tuh ngga pernah di bimbing ke satu hal yang memungkinkan buat aku bisa dapet sebuah trofi atau piala . mereka tuh cma bisa ngomong ‘udah teteh les ini les itu aja’ tanpa ada tindakan ! rasanya nyesel tapi ah ngga tau deh kalo inget itu bawaannya ingin marah sama orangtua . mereka tuh terlalu nganggap hal yang aku anggap besar mereka anggap kecil gitu . ah tapi ngga apa-apa lah aku masih punya sertifikat olimpiade matematika pasiad seindonesia , ya walau pun ngga menang . lagian pemenang itu ngga ditunjukin dari sebuah barang berwana emas yang dikasih nama “AKU LAH PEMENANG” atau "AKU LAH JUARA" . toh kejadian timnas indonesia juga ngingetin aku kalau ‘selama usaha kita lakuin sebaik mungkin , trofi atau piala bukan jadi tolak ukur seorang pemenang . pemenang bukan dilihat dari benda berwarna emas ! pemenang dilihat dari usaha kita mencapai kemenangan itu sendiri ko’ jadi selama aku masih bisa nunjukin dan ngebuktiin ke umi dan ayah kalo aku bisa ngelakuin sesuatu yang buat aku bangga tanpa piala . Firman Utina – 15 , kapten timnas 2010 juga bilang “TIMNAS INDONESIA MENANG TAPI KAMI TIDAK MEMILKI PIALA” . oke sekarang tinggal gimana caranya supaya aku bisa ngebuktiin semua itu ! bangkit , Semangaaaat!!! Karena kata Bambang Pamungkas : “jangan berhenti untuk bermimpi karena mimpi awal dari keberhasilan” . GO FIGHT FIVA!

Kaleidoskop 2010 - Tanah Air Terhempas Bencana

AWALNYA, tak ada yang tahu jika gempa bumi yang mengguncang Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat itu disertai dengan hantaman tsunami. Setelah gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) itu terjadi pada 25 Oktober 2010 sekira pukul 22.15 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang mengeluarkan peringatan tsunami. Tapi, kabar adanya tsunami hebat baru sampai ke publik keesokan harinya. Itu pun hanya tsunami kecil katanya.

Ternyata, tsunami telah menghancurkan Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan yang ada di Kepulauan Mentawai. Tak ada satupun rumah warga yang luput dari gelombang mematikan itu.

Gelombang laut yang menyusul gempa itu menerjang daratan saat dini hari, 26 Desember 2010. Semua orang tengah terlelap, tak banyak yang bisa menyelamatkan diri.

Hingga satu bulan setelah tsunami menghantam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada lebih dari 500 orang tewas. Itu belum termasuk korban yang menderita luka-luka.

Korban luka juga tak bisa berharap banyak. Tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang minim memaksa mereka harus bertahan dengan luka-luka di tubuh. Bantuan makanan, minuman, dan obat-obatan yang dikirim dari seluruh penjuru dunia tertahan di pelabuhan di Padang, akibat cuaca buruk. Akses yang sulit menuju ke lokasi juga menjadi salah satu kendala. Kapal pengangkut batuan harus berlayar selama lebih dari 10 jam untuk bisa merapat di sana. Itu pun kalau cuaca cerah.

Ribuan pengungsi berkumpul di tenda-tenda darurat. Awalnya, semua kebutuhan logistik serba minim. Pemerintah dan relawan berlomba-lomba mengirim bantuan melalui jalur laut dan udara.

Tak hanya itu, bantuan juga mengalir dari negara lain. Pemerintah China mengirimkan bantuan melalui Palang Merah Indonesia (PMI). Sementara itu melalui Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyampaikan bantuan sebesar USD40 ribu yang diterima dari Vatikan. Sejumlah LSM asing juga menitipkan bantuan kepada LSM yang ada di Padang. Presdien Amerika Serikat (AS) Barack Obama pun langsung menyampaikan belasungkawa  dan berjanji akan membantu Indonesia. Tapi pemerintah berkali-kali menegaskan tak akan menerima bantuan asing.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru saja terbang ke China saat bencana itu tiba. Kondisi yang semakin gawat memaksa Presiden kembali ke Tanah Air sebelum jadwal yang sudah ditetapkan. Beserta rombongan, pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut Presiden mendarat di Padang pada 27 Oktober 2010. Keesokannya, Presiden langsung meninjau lokasi bencana.

Di sana, Presiden meminta agar BNPB memastikan seluruh korban mendapat bantuan. Tak lama di sana, Presiden terbang ke Vietnam untuk menghadiri pertemuan ASEAN.

Kini, status tanggap darurat yang ditetapkan sejak 26 Oktober 2010 itu, sudah berakhir. Pemerintah pusat tak lagi mengambil alih tongkat komando di Mentawai. Segala urusan rehabilitasi dan rekonstruksi ada di tangan pemerintah setempat.

Hunian sementara (Huntara) bagi warga juga belum 100% rampung. Namun Ketua Palang Merah Indoensia (PMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa Huntara bagi korban tsunami di Mentawai harus rampung sebelum Natal.

Setelah kabar Mentawai dihantam tsunami, malam harinya Gunung Merapi yang statusnya sudah naik menjadi Awas, akhirnya meletus.

Erupsi gunung berapi terbesar di dunia itu menggusur ribuan warga di sejumlah dusun yang ada di kaki Merapi. Mbah Maridjan, juru kunci Merapi, ditemukan tewas di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di desa yang hanya berjarak empat kilometer dari Gunung Merapi itu, Mbah Maridjan tergulung awan panas bersama ratusan warga lainnya.

Lebih dari 275 korban tewas. Ternak sapi milik warga juga mati akibat gulungan awan panas. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 2.000 ekor.

Erupsi besar tersebut tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga DIY. Sejak abu Merapi menyembur, Bandara Adisutjipto pun ditutup. Seluruh penerbangan domestik dan internasional dari dan menuju Yogya, dibatalkan.

Abu Merapi juga menyelimuti Candi Borobudur di Kabupaten Magelang. Akibatnya, kompleks candi terbesar di dunia itu pun ditutup untuk umum.

Tak sampai di sana, warga di Depok dan Puncak, Jawa Barat, juga sempat merasakan debu dari Merapi.

Sama seperti di Kepualauan Mentawai, Tim SAR juga bersusah payah mencari korban Merapi. Korban tewas rata-rata ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan sudah tidak bisa lagi dikenali. Kuburan missal pun menjadi jalan akhir.

Bantuan bagi korban yang selamat juga mengalir dari luar negeri. Seperti yang disampaikan oleh Pemerintah Australia berupa 30 ribu masker. Pemerintah Malaysia bahkan memberikan bantuan sebesar Rp1 miliar.

Banyaknya korban tewas dikarenakan mereka menolak dibawa ke pengungsian. Alasannya, mulai dari yang masuk di akal seperti tak mau kehilangan harta termasuk ternaknya, sampai alasan mistis.

Kepercayaan warga DIY akan Merapi sebagai pusat kekuatan, melahirkan adanya sosok yang dipercaya menghuni Merapi. Mereka yang memilih bertahan di rumah, beralasan mereka belum menerima petunjuk dari sosok yang mereka percaya itu untuk segera meninggalkan Merapi. Sebagain warga menyebutnya Mbah Petruk. Tak lama setelah erupsi kecil pertama, muncul fenomena yang diyakini sebagai penampakan Mbah Petruk. Kataya, ada awan yang menyembur dari puncak Merapi, yang bentuknya mirip kepala Petruk.

Saat jarak aman Merapi diperlebar, pengungsi di sejumlah titik kembali diboyong. Mereka dikumpulkan di Stadion Maguwoharjo.

Presiden SBY juga turun ke lokasi untuk bertemu langsung dengan para pengungsi. Setelah berkunjung ke sana dan memastikan kondisi Merapi semakin kondusif, Presiden kembali terbang ke luar negeri untuk menghadiri KTT G20 di Seoul, Korea Selatan dan pertemuan puncak APEC di Yokohama, Jepang.

Sebelum dua bencana itu menggetarkan Tanah Air, banjir bandang telah merendam Wasior, Papua Barat. Banjir datang saat hari masih terlalu pagi pada 4 Oktober 2010.

Lebih dari 150 orang tewas akibat bencana itu, sementara 4.000 lainnya mengungsi. Pemerintah kompak membantah jika banjir bandang itu disebabkan pembalakan liar. Kerugian akibat bencana itu mencapai Rp227,9 miliar. Presiden SBY pun merogoh Rp2 miliar dari kocek pribadinya.

Saat berkunjung ke sana, Presiden SBY meminta agar Inpres pembangunan di Papua dievaluasi. Masa tanggap darurat kala itu juga diperpanjang.

Di akhir Agustus 2010, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memuntahkan lava pijar dan abu vulkanik. Hampir 30 ribu warga di sekitarnya mengungsi. Tiga orang tewas akibat terkena abu vulkanik.

Berbeda dengan di Merapi, para pengungsi di sekitar Gunung Sinabung justru tak mau meninggalkan pengungsian. Mereka takut Sinabung mengeluarkan abu dan lava lagi.

Sama seperti di Merapi, Mentawai, dan Wasior, Presiden SBY juga meringankan langkah mengunjungi korban di sana. Mungkin supaya adil.(ahm)

Garuda Bangkit tanpa Mahkota Juara

Jum'at, 31 Desember 2010 - 11:00 wib
Muchamad Syuhada - Okezone

Foto: Raut kekecewaan fans Timnas Indonesia usai leg kedua final Piala AFF 2010 melawan Malaysia. (Reuters)

JELANG tutup tahun 2010 sepakbola Indonesia bergelora. Penampilan tim nasional (timnas) di ajang AFF Cup 2010 berhasil menyedot antusiasme luar biasa dari publik Tanah Air. Kegandrungan terhadap Laskar Merah-Putih meningkat tajam. Semua kalangan tidak ketinggalan membicarakan performa Firman Utina dkk di lapangan mulai dari kalangan masyarakat umum hingga kepala negara.

Timnas menjelma sebagai idola baru dan AFF Cup 2010 menjadi momentum kebangkitan kembali nasionalisme bangsa lewat sepakbola setelah Piala Asia 2007 silam. Namun ironis, kegagalan lagi-lagi mendera. Tampil gemilang sejak awal turnamen, Timnas harus memperpanjang penantian 14 tahun untuk bisa merengkuh trofi pentas sepakbola se-Asia Tenggara setelah gagal menaklukkan Malaysia pada partai final yang dihelat dengan menggunakan format home-away.

Pembenahan di tangan Riedl
Walaupun tidak bisa mengangakat piala, namun secara performa timnas di AFF Cup 2010 pantas diberi acungan jempol. Racikan tangan dingin Alfred Riedl dianggap sebagai faktor utama. Dengan gaya kepelatihan yang tak kenal kompromi, pria asal Austria berhasil memadukan pemain senior dan junior dalam sebuah tim.

Meskipun menuai sukses, perjalanan Riedl di awal masa tugasnya cukup berliku. Banyak pihak meragukan kapasitasnya, terlebih pada sebuah laga persahabatan timnas dicukur habis 1-7 oleh Uruguay.

Pertikaian dengan pemain juga sempat menghadang jelang tampil di AFF Cup 2010. Sikap Riedl yang tidak mengenal toleransi membuat penyerang andalan Boaz Salossa tersisih karena alasan indisipliner. Keputusan itu tentu disayangkan oleh banyak pihak.

Namun Riedl bisa menjawab segala kritik yang menghujam. Pada laga pembuka AFF Cup 2010 timnas membuat gebrakan dengan menyikat Malaysia 5-1. Kebintangan bomber asal Papua juga langsung terlupakan. Nama-nama baru macam Ahmad Bustomi, Oktavianus Maniani, Muhamad Nasuha dan Irfan Bachdim justru yang kemudian terus menuai pujian.

Efek naturalisasi
Masuknya pemain naturalisasi Christian Gonzales tidak dipungkiri memberikan kontribusi besar buat timnas. Sebagai bukti nyata ialah dua gol yang disarangkannya striker Cristian 'El-Loco' Gonzales ke gawang Filipina pada laga semifinal di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Untuk Riedl kehadiran penyerang berjuluk El-Loco (Si Gila) merupakan sebuah solusi atas minimnya pilihan penyerang berkualitas yang berlaga di kompetisi lokal. Sebagaimana diketahui klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) lebih gemar memakai jasa pemain asing untuk mengisi posisi striker.

Selain Gonazales, pemain berdarah campuran Irfan Bachdim juga memberikan warna baru bagi timnas. Pemain 22 tahun yang sempat mengeyam pendidikan di akademi sepakbola Ajax Amsterdam menjadi amunisi ampuh lain di lini serang. Catatan khusus, selama AFF Cup 2010, Bachdim adalah pemain yang paling banyak mendapat sorotan. Wajah tampannya dianggap menjadi magnet bagi para fans wanita.

Sentimen anti-Malaysia dan juara baru
Sejak awal sentimen anti Malaysia sudah diperkiran menjadi pemanas persaingan di AFF Cup 2010. Tergabung dalam satu grup di babak penyisihan, uniknya Indonesia malah menjadi penyelamat Malaysia.

Pada laga terakhir, timnas yang sudah dipastikan lolos ke babak semifinal dengan status juara grup memuluskan langkah anak-anak asuh Khrisnasamy Rajagopal dengan mengalahkan Thailand sebagai pesaing ketat mereka dalam memperebutkan posisi runner-up di grup A.

Tanpa diduga-duga kedua Negara bertetangga kembali bersua di partai puncak. Sialnya saat itu Harimau Malaya sudah mengasah taring. Pada laga pertama di di Bukit Jalil mereka mencabik-cabik Timnas Garuda dengan kemenangan 3-0. Namun kecurangan sempat mewarnai jalannya pertandingan. Pendukung Malaysia sengaja menggunakan laser untuk mengganggu konsentrasi pemain timnas.

Untuk pertemuan kedua di SUGBK, masyarakat Indonesia diimbau tidak mencontoh perbuatan pendukung lawan. Pihak-pihak terkait pengelola jalannya laga berusaha keras menciptakan situasi kondusif. Hasilnya, acungan jempol buat public sepakbola Indonesia. Mereka membuktikan diri sebagai bangsa yang beradab dengan tidak menganggu jalannya pertandingan dan tidak menimbulkan kekacauan.

Namun ada satu yang kurang, yakni fakta bahwa timnas gagal merengkuh gelar. Malaysia tampil sebagai juara baru meskipun kalah 2-1 di pertemuan kedua. Sebuah ironi karena tim dari negara yang dalam beberapa waktu belakangan dinilai telah sering kali melecehkan martabat bangsa bisa berpesta di hadapan 95 ribu supporter Merah-Putih.

Kisruh tiket
Kekisruhan penjualan tiket juga jadi topik hangat selama pagelaran AFF Cup 2010. Mulai dari laga semifinal yang terpaksa dilangsungkan dua kali di SUGBK karena Filipina tidak memiliki venue yang layak, banyak supporter yang mengaku kesulitan mendapatkan tiket. Sistem pengelolaan yang semrawut membuat banyak pihak kecewa kepada panitia lokal.

Puncaknya di final kedua, serbuan supporter sejak H-5 membuat panitia kewalahan. Namun banyak yang menilai hal semacam itu seharusnya tidak perlu terjadi jika saja panitia lebih siap. Apalagi sempat tercium dugaan kecurangan dari panitia yang hanya menginginkan keuntungan tanpa memberikan pelayanan maksimal.

Beberapa hal yang patut dicermati selepas AFF Cup 2010. Dari sisi positif, nilai-nilai nasionalisme yang belakangan mulai memudar bisa kembali bangkit lewat sepakbola. Seluruh elemen masyarakat bisa bersatu padu dalam sebuah tekad mendukung timnas. Selain itu bangsa Indonesia juga berhasil membuktikan diri sebagai bangsa yang berbudaya dengan tidak melakukan tidak kekacauan meskipun bangsa lain memperlakukan dengan kurang baik. Sementara dari sisi negatif, kacaunya pengelolaan tiket pertandingan telah merefleksikan kapasitas PSSI sebagai institusi paling paling berwenang atas urusan sepakbola.
(fmh)

Kapten Timnas INDONESIA

Firman Utina (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 15 Desember 1981; umur 29 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia yang berposisi sebagai gelandang serang. Saat ini ia memperkuat Sriwijaya FC tim dari Liga Super Indonesia. Tinggi badannya 165 cm. Pemain ini pernah bermain di klub Persma Manado, Persita Tangerang, dan Arema Malang. Ia juga telah memperkuat tim nasional sepak bola Indonesia dan terpilih sebagai Pemain Terbaik pada pertandingan Indonesia melawan Bahrain di Piala Asia 2007.ia juga sempat mengantarkan Arema Malang menjuarai Copa Dji Sam Soe dan terpilih menjadi pemain terbaik dalam pada pertandingan tersebut.
Firman mencetak gol saat melawan laos 2 #bahasa gue .
ohiya ada yang lupa gue post , Firman jadi pemain terbaik juga di piala AFF tahun ini .
sumpah eh gue udah terlalu jatuh o.O
dikutip dari berita kompas yang isinya : Kapten timnas Indonesia, Firman Utina, meraih gelar pemain terbaik dalam ajang Piala AFF 2010. Atas keberhasilannya itu, Firman berhak memperoleh hadiah uang senilai 10.000 dollar AS.
Firman berperan besar untuk timnas sejak babak penyisihan grup hingga final. Pemain kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 15 Desember 1981, ini mampu tampil penuh memotivasi rekan-rekannya. Posisi sebagai gelandang serang ini memberikan umpan matang untuk pemain lini depan.
Saat ini, pemain bertinggi badan 165 sentimeter tersebut memperkuat Sriwijaya FC di Liga Super Indonesia. Firman Utina pernah bermain di klub Persma Manado, Persita Tangerang, dan Arema Malang. Ia juga telah memperkuat tim nasional sepak bola Indonesia dan terpilih sebagai Pemain Terbaik pada pertandingan Indonesia melawan Bahrain dalam Piala Asia 2007. Ia juga sempat mengantarkan Arema Malang menjuarai Copa Dji Sam Soe dan terpilih menjadi pemain terbaik pada pertandingan tersebut.
Saat menerima trofi sebagai pemain terbaik, Firman tampak masih terlihat lesu seperti juga rekan-rekannya yang gagal merebut trofi Piala AFF 2010. Dalam pertandingan final kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Firman bermain kurang maksimal. Setelah gagal mengeksekusi penalti ke gawang Malaysia pada menit ke-17, ia sering melakukan kesalahan sehingga akhirnya diganti oleh Eka Ramdani pada menit ke-56.
Dalam laga final ini, timnas Indonesia gagal merebut gelar Piala AFF 2010 setelah hanya menang 2-1 atas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu. Malaysia mengukir sejarah baru untuk kali pertama setelah merebut trofi dengan kemenangan agregat 4-2. Pada babak final pertama, "Harimau Malaya" menang 3-0 atas tim "Garuda". Sementara itu, pencetak gol terbanyak direbut Mohd Safee dari Malaysia dengan lima gol.


liat angka 15 ! 15 for you , Firman 15 for me Fitri :)